HUKUM PUASA DI BULAN RAJAB

Image

Alhamdulillah bulan ini kita masih dikaruniai umur panjang untuk berjumpa dengan bulan Rajab tahun 2013. Tulisan ini saya buat berdasarkan pertanyaan dari seorang teman. Lalu bagaimanakah sebenarnya hukum melaksanakan puasa di bulan Rajab? Sebelum menjawab bagaimana hukum berpuasa di bulan Rajab, marilah kita mengenal seluk beluk bulan Rajab terlebih dahulu.

 

Asal kata Rajab

Image

Rajab berasal dari kata “rajjaba – yurajjibu” yang berarti “mengagungkan”. Dinamakan bulan Rajab karena bulan ini diagungkan oleh masyarakat Arab (keterangan Al Ashma’i, dikutip dari Lathaiful Ma’arif, hal. 210). Bulan Rajab termasuk salah satu dari 4 (empat) bulan haram. Bulan haram berarti bulan yang mulia, yang dimuliakan Allah dengan melarang berperang pada keempat bulan haram tersebut. Keempat bulan haram tersebut adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana firman Allah SWT:


إِنَّعِدَّةَالشُّهُورِعِنْدَاللَّهِاثْنَاعَشَرَشَهْرًافِيكِتَابِاللَّهِيَوْمَخَلَقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَمِنْهَاأرْبَعَةٌحُرُمٌذَلِكَالدِّينُالْقَيِّمُ

Sesungguhnya jumlah bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.” (QS. At Taubah: 36)


Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّالزَّمَانَقَدِاسْتَدَارَكَهَيْئَتِهِيَوْمَخَلَقَاللَّهُالسَّمَوَاتِوَالأَرْضَالسَّنَةُاثْنَاعَشَرَشَهْرًامِنْهَاأَرْبَعَةٌحُرُمٌثَلاَثَةٌمُتَوَالِيَاتٌذُوالْقَعْدَةِوَذُوالْحِجَّةِوَالْمُحَرَّمُوَرَجَبٌشَهْرُمُضَرَالَّذِىبَيْنَجُمَادَىوَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana kondisinya, ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan ber-turut-turut: Dzul Qai’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan: Rajab suku Mudhar*, yaitu bulan antara Jumadi (tsaniyah) dan sya’ban.” (HR. Al Bukhari, Muslim).”

Keterangan:
*Disebut “Rajab suku Mudhar” karena suku Mudhar adalah suku yang paling menjaga kehormatan bulan Rajab, dibandingkan suku lain. Kemudian, Rasulullah SAW memberi batasan: antara Jumadil (tsaniyah) dan sya’ban, sebagai bentuk menguatkan makna (Umdatul Qori, 26/305). Ada yang menjelaskan disebut “Rajab suku Mudhar” untuk membedakan dengan suku Rabi’ah yang menghormati bulan Ramadhan. Karena itu bulan ini dinisbahkan kepada suku Mudhar.

 

Beberapa hadits dhaif terkait bulan Rajab

Image

1.        Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai bernama sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu dan lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.”

(Riwayat Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, Al Hafidz Al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan Al Baihaqi dalam Fadhail Auqat. Ibnul Jauzi mengatakan dalam Al Ilal Al Mutanahiyah: Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu)

 

2.        “Allahumma baarik lanaa fii Rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana.”

(Riwayat Ahmad dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad dari Ziyadah An Numairi. Tentang para perawi ini Imam Bukhari mengatakan: Munkarul hadits. An Nasa’i mengatakan: Mungkarul hadits. Sementara Ibn Hibban menyatakan: haditsnya tidak bisa dijadikan dalil)

 

3.        “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan Sya’ban.” (Riwayat Al Baihaqi. Ibn Hajar mengatakan: ini adalah hadits munkar disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang yang dhaif sekali.- Tabyinul Ajbi, hal. 12)

 

4.         “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

(Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadits, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadits ini dengan hadits maudlu’)

 

5.         “Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain.”

(Ibn Hajar mengatakan: Perawi hadits ini ada yang bernama As Saqathi, dia adalah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadits)

 

6.         “Rajab adalah bulan Allah Al Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridha Allah yang besar.” (Hadits palsu, sebagaimana penjelasan As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah)

 

7.         “Barangsiapa yang berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, Allah catat baginya puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka.”

(Hadits maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/206)

 

8.        “Siapa yang shalat maghrib di malam pertama bulan Rajab, setelah itu dia shalat dua puluh rakaat, setiap rakaat dia membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sekali, dan dia melakukan salam sebanyak sepuluh kali. Tahukah kalian apa pahalanya? Allah akan menjaga dirinnya, keluarganya, hartanya, dan anaknya. Dia dilindungi dari siksa kubur.”

(Hadits maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/123)

 

9.         “Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.”

(Hadits maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/124, Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 47)

 

10.    Hadits Shalat Raghaib: “Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Dimana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: “Wahai malaikat-Ku, mintalah apa saja yang kalian inginkan”. Maka mereka mengatakan: “Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: “Hal itu sudah Aku lakukan”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat.”

(Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)

 

11.       “Barangsiapa yang shalat pada malam pertengahan bulan Rajab, sebanyak 14 rakaat, setiap rakaat membaca Al Fatihah sekali dan surat Al Ikhlas 20 kali.”

(Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 25, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 50)

 

12.     “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, siapa yang berpuasa sehari, Allah akan mencatat baginya puasa seribu tahun.”

(Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/206 – 207, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 26, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 101, As Suyuthi dalam Al Lali’ Al Mashnu’ah, 2/115)

 

Hukum puasa di bulan Rajab

Image

Pada prinsipnya tidak ada amalan khusus terkait bulan Rajab baik berupa shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Jumhur ulama menjelaskan bahwa hadits yang menyebutkan amalan khusus untuk bulan Rajab adalah hadits bathil dan tertolak:

 

Ibn Hajar mengatakan: “Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan Rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Abu Ismail Al Harawi.” (Tabyinul Ujub bimaa warada fii Fadli Rajab, hal. 6)

 

Imam Ibn Rajab juga menegaskan tidak ada satupun hadits shahih dari Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan:

Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.” Namun riwayat bukan hadits. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah: “Abu Qilabah termasuk Tabi’in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu selain hanya kabar tanpa sanad.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)

 

Mengkhususkan bulan Rajab untuk melakukan amal ibadah tertentu, seperti puasa, shalat malam, shalat Raghaib, dan semacamnya biasanya berdalil dengan hadits dhaif dan hadits palsu. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa dan i’tikaf, tidak terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabatnya, dan tidak pula dari para ulama kaum muslimin masa silam. Sebaliknya, disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Sya’ban. Dan beliau tidak berpuasa dalam satu tahun yang lebih banyak dari pada puasa beliau di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim, Majmu’ Fatawa, 25/ 290 – 291)

 

Ibnu Taimiyah juga mengatakan:

“Sesungguhnya mengagungkan bulan Rajab (dengan memperbanyak amal) termasuk perbuatan yang selayaknya dihindari. Demikian pula menjadikan bulan Rajab sebagai momen khusus untuk melaksanakan puasa, termasuk perbuatan makruh (dibenci), menurut Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya.” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/624 – 625, Ust. Ammi Nur Baits).

 

Imam Ahmad mengatakan:

Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.”

 

 

Boleh puasa bulan Rajab dengan syarat niat berpuasa bulan haram dan tidak sebulan penuh

Image

Jika berpuasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunnah di empat bulan haram maka hukumnya boleh, bahkan dianjurkan. Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dll, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap beliau, meminta diajari berpuasa. Rasulullah SAW kemudian memberikan nasehat:

Rasulullah SAW     : “Puasalah sehari tiap bulan.”

Fulan                     : “Saya masih kuat, tambahkanlah!”

Rasulullah SAW     : “Dua hari setiap bulan”.

Fulan                      : “Saya masih kuat, tambahkanlah!”

Rasulullah              : “Tiga hari setiap bulan.”

Fulan                      : (tetap meminta tambah).

Rasulullah SAW     : “Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).”

(Hadits ini di-shahih-kan sebagian ulama dan di-dhaif-kan ulama lainnya, namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama berpuasa di semua bulan haram, seperti: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.

 

Adapun perintah Rasulullah SAW untuk berpuasa di bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

 

Telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ’Umar bin Khattab. Ketika bulan Rajab, ’Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau berkata:

لَاتُشَبِّهُوهُبِرَمَضَانَ

Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.”

(Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

 

Imam Asy Syafi’i mengatakan:

Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Berdasarkan hadits ’Aisyah yang tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

 

 

Hukum mengkhususkan puasa di hari Isra’ Miraj (27 Rajab)

puasa-batman

Bagaimana sesungguhnya puasa 27 Rajab itu, adakah dalilnya? Dalam Fiqih Puasa, Dr Yusuf Qardhawi menjelaskan:

“Semua ini tidak ada dalilnya dalam syariat puasa. Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengingat nikmat besar yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana nikmat dalam Perang Ahzab.”

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika datang pasukan-pasukan kepada kalian, maka Kami utus angin dan pasukan tak terlihat untuk menghancurkan mereka” (QS. Al Ahzab: 9)

Meskipun demikian, mereka tidak pernah mengingat hari-hari ini. Semua melupakan nikmat ini, tenggelam oleh nikmat syawal dan lain-lain.


Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata:

“Para sahabat dan tabiin tak pernah mengkhususkan malam isra’ dengan amalan tertentu, tidak pula memperingatinya dengan acara tertentu. Oleh karena itu, tidaklah malam isra’ dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah.”


Tak ada dalil yang diketahui tentang bulannya (terjadi isra’ mi’raj), tentang sepuluh harinya, apalagi hari H nya. Bahkan nukilan tentang itu semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tak ada yang qath’i tentangnya dan tak ada syariat bagi umat Islam untuk mengistimewakan malam (27 Rajab) itu dengan shalat atau lainnya. Dengan demikian, meskipun malam 27 Rajab telah termasyhur sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, sesungguhnya tak ada dalil tentang itu.

 

 

Kesimpulan

Tidak ada yang istimewa dengan puasa di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab karena termasuk bulan haram, namun tidak ada keistimewaan bulan Rajab dari bulan haram lainnya. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya. Juga tidak ada pengkhususan berpuasa pada hari tertentu atau tanggal tertentu di bulan Rajab sebagaimana yang diyakini sebagian orang. Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab.

Wallahu a’lam

 

Oleh: Angling Kemenangan, diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: