HUKUM MENDAPATKAN PEKERJAAN DENGAN MEMBERIKAN SOGOKAN

Oleh: Angling Kemenangan

 

Image

Di zaman era gombalisasi sekarang ini susah dan ketatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan terkadang membuat seseorang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka impikan, terutama menjadi PNS. Di Indonesia PNS menjadi pekerjaan yang pencari kerja, calon istri dan calon mertua impikan. Ya, PNS menjadi impian hampir sebagian besar masyarakat Indonesia dengan beragam alasan, yang bisa saya rangkum dalam tiga kategori besar sebagai berikut:

1.      Nyaman dan Terjamin

Menjadi PNS selama tidak melakukan pelanggaran berat atau Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) InsyaAllah aman dari apa yang biasanya menjadi momok ketika bekerja di swasta: “Pemecatan/PHK”. Sebesar apapun gaji kita di swasta bila di kemudian hari kita dianggap tidak lagi produktif, alas an rasionalisasi, perusahaan bangkrut atau kebetulan bermasalah dengan pimpinan kita, bisa saja kita dipecat secara sepihak. Para calon mertua biasanya lebih suka mempunyai calon menantu dari kalangan PNS. Walaupun mereka tahu gaji PNS tidak sebesar swasta tetapi mereka mendapatkan assurance bahwa kehidupan anaknya InsyaAllah terjamin hingga hari tua dari calon menantunya, karena tidak akan di pecat dan mandapatkan pensiun. Apalah arti bekerja di swasta dengan gaji yang tinggi namun selalu was-was apabila sewaktu-waktu akan di PHK secara sepihak dari instansi tempat mereka bekerja.

Kepastian kenaikan golongan secara regular (biasanya tiap empat tahun sekali) dan kenaikan gaji secara berkala (biasanya tiap dua tahun sekali), belum ditambah jika mendapatkan kenaikan gaji di luar kenaikan gaji berkala berdasarkan pidato Presiden adalah pertimbangan lain yang menjadikan pekerjaan PNS sebagai “madu” yang menarik para pencari kerja untuk menjadi PNS.

 

2.      Mendapat pensiun

Beberapa instansi swasta sebenarnya juga telah mempunyai program dana pensiun, namun sebagian besar masih sebatas memberikan uang pesanggon bagi karyawannya yang di PHK. Sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan besarnya pesanggon maksimal adalah 9 (Sembilan) kali gaji untuk karyawan yang sudah bekerja lebih dari 8 (delapan) tahun dan maksimal 28 (duapuluh delapan) kali gaji apabila ditambah dengan peghargaan untuk karyawan yang telah bekerja lebih dari 24 (duapuluh empat) tahun.

 

3.       Kebanggaan dan paradigma masyarakat

Paradigma zaman Belanda yang menganggap ambtenaar (PNS di zaman Belanda) adalah jabatan yang terhormat di masyarakat waktu itu. Di masyarakat pedesaan, umumnya lebih menghormati orang yang bekerja sebagai PNS, karena menganggap sebagai bagian dari kekuasaan.

 

Oke disini saya tidak akan membahas masalah PNS, namun tentang hukum haramnya mendapatkan pekerjaan dengan cara memberikan sejumlah uang tertentu agar diterima kerja (sogok/suap), yang kebetulan PNS adalah menjadi pekerjaan impian sebagian besar masyarakat Indonesia.

 

Suap atau sogok berasal dari bahasa Arab yaitu risywah. Risywah secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan

 

Image

Keharaman sogok/suap

Semua ulama sepakat bahwa suap atau sogok itu hukumnya adalah “haram”. Tolong-menolong dalam kezaliman adalah perbuatan yang haram dalam hukum agama, sebagaimana firman Allah SWT:

وَتَعَاوَنُواْعَلَىالْبرِّوَالتَّقْوَىوَلاَتَعَاوَنُواْعَلَىالإِثْمِوَالعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah untuk melakukan kebaikan serta takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong untuk melakukan dosa dan kezaliman.’ (Q.s. Al-Maidah:2).”

Dalam kitab Al-Kabair halaman.217 terdapat hadits Rasulullah dari Abu Hurairah ra. yang berbunyi:

“Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap dalam suatu perkara”

(HR. Ahmad (2/387,388), At-Tirmidzi (10/254), Ibnu Hibban (5076), Ibnul Jarud (585), Al-Hakim (4/103), Al-Khathib dalam tarikhnya (10/254), Hadits ini dimuat dalam shahih Al-Jami’ dan Al-Kabair karya imam Adz-Dzahab)

 

Namun jumhur ulama memberikan pengecualian kepada mereka yang tidak bisa mendapatkan haknya kecuali dengan disyaratkan harus membayar jumlah uang tertentu, dengan ketentuan:

1.   Orang tersebut pada dasarnya memang betul-betul diterima dan lulus tes murni karena kemampuan intelektual, psikologis dan fisik kesehatan yang prima, namun oleh oknum disyaratkan membayar sejumlah uang tertentu untuk memuluskan prosedur administrasi, dan jika si calon pekerja tidak membayar maka posisinya akan digantikan orang lain yang bersedia membayar.

2.   Tidak melanggar hak/menzalimi orang lain/menggusur orang lain/mematikan kesempatan orang lain yang seharusnya diterima karena telah lulus tes dan kapabilitasnya (“main belakang”) untuk bekerja.

 

Dalam hal ini calon pekerja yang membayar untuk mendapatkan haknya tersebut tidak berdosa, karena dia melakukan untuk mendapatkan apa yang jelas-jelas menjadi haknya secara khusus, sedangkan yang meminta hukum berdosa karena menghalangi seseorang untuk mendapatkan haknya. Hak secara khusus berbeda dengan hak secara umum.

Contoh:

Menjadi PNS merupakan hak umum seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) sehingga apabila membayar sejumlah uang tertentu agar menjadi PNS (main belakang) termasuk risywah yang diharamkan, karena menjadi PNS meskipun hak seluruh WNI tetapi hak tersebut sifatnya umum. Siapa saja memang berhak menjadi PNS, tetapi yang paling berhak hanyalah mereka yang yang benar-benar murni lulus tes dan mempunyai kemampuan intelektual, psikologis, dan fisik kesehatan yang prima. Bagi seseorang yang pada dasarnya memang betul-betul diterima dan lulus tes murni karena kemampuan intelektual, psikologis dan fisik kesehatan yang prima, namun oleh oknum disyaratkan membayar sejumlah uang tertentu untuk memuluskan prosedur administrasi, dan jika si calon pekerja tidak membayar maka posisinya akan digantikan orang lain yang bersedia membayar, maka oleh jumhur ulama diperbolehkan karena orang tersebut dirampas haknya dan tidak akan diberikan kecuali dengan memberikan sejumlah harta sehingga bukan termasuk ketegori menyogok yang diharamkan. Misalnya kita “dipaksa” memberikan uang tips kepada petugas kelurahan agar KTP kita segera dikeluarkan kalau tidak,si petugas akan terus menahannya.

 

Akibat menyogok untuk mendapatkan pekerjaan

1.      Diancam dengan neraka

Image

Dalam kitab Al-Kabair halaman.217 terdapat hadits Rasulullah dari Abu Hurairah ra. yang berbunyi:

       “Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap dalam suatu perkara”

(HR. Ahmad (2/387,388), At-Tirmidzi (10/254), Ibnu Hibban (5076), Ibnul Jarud (585), Al-Hakim (4/103), Al-Khathib dalam tarikhnya (10/254), Hadits ini dimuat dalam shahih Al-Jami’ dan Al-Kabair karya imam Adz-Dzahab)

2.      Harta menjadi tidak berkah

Image

 

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. Bersabda:

“Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik…” (HR. Bukhari Muslim).


Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik dari pada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal, karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Dalam surat Al Maidah: 100 Allah menjelaskan bahwa tidak sama kualitas harta haram dengan harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menakjubkan banyaknya. Benar, harta haram tidak akan pernah sama dengan harta halal. Harta haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits. Kata khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan merusak tubuh secara fisik maupun mental. Sementara harta halal disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi.


Harta haram apapun bentuknya, termasuk dari gaji yang cara memperoleh pekerjaannya dengan cara yang salah (suap/sogok) akan menuntun pemiliknya untuk menjadi rakus dan kejam. Seorang yang terbiasa mengkonsumsi harta haram jiwanya akan meronta-ronta, merasa tidak tenang tanpa diketahui sebabnya. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus menyeretnya ke lembah yang semakin jauh dari Allah. Lama kelamaan ia tidak merasa lagi berdosa dengan kemaksiatan. Berkata bohong menjadi akhlaknya. Ia merasa tidak enak kalau tidak berbuat keji. Karenanya tidak mungkin harta haram mengandung keberkahan. Allah sangat membenci harta haram dan pelakunya. Seorang yang terbiasa menikmati harta haram doanya tidak akan Allah terima: Rasulullah SAW pernah menceritakan bahwa ada seorang musafir, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, menadahkan tangannya ke langit, memohon: Yaa Rabbi Yaa Rabbi, sementara pakaian dan makanannya haram, doanya tidak diterima (HR. Muslim)


Ibn Hibban meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Orang yang mendapatkan hartanya dengan cara haram, lalu ia bersedekah dengannya, ia tidak akan mendapat pahala dan dosanya tetap harus ia tanggung”.

 

“Janganlah engkau merasa kagum kepada orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah, maka tidak akan diterima oleh Allah; dan bila disimpan, hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun, hartanya akan menjadi bekalnya di neraka” (HR. Abu Dawud).

 

Imam Adz Dzahaby menambahkan dalam riwayat lain: “Bahwa harta tersebut kelak akan dikumpulkan lalu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam”. Maka tidak ada jalan lain untuk meraih keberkahan kecuali hanya dengan merebut harta halal sekalipun sedikit dan nampak tidak berarti (Dr. Amir Faishol Fath).

 

3.       Keluarga tidak tentram

Image

Syaikhul Islam mengatakan,

الطَّعَامَيُخَالِطُالْبَدَنَوَيُمَازِجُهُوَيَنْبُتُمِنْهُفَيَصِيرُمَادَّةًوَعُنْصُرًالَهُ،فَإِذَاكَانَخَبِيثًاصَارَالْبَدَنُخَبِيثًافَيَسْتَوْجِبُالنَّارَ؛وَلِهَذَاقَالَالنَّبِيُّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ : (كُلُّجِسْمٍنَبَتَمَنْسُحْتٍفَالنَّارُأَوْلَىبِهِ) . وَالْجَنَّةُطَيِّبَةٌلَايَدْخُلُهَاإلَّاطَيِّبٌ

Makanan akan bercampur dengan tubuh dan tumbuh menjadi jaringan dan sel penyusunnya. Jika makanan itu jelek maka badan menjadi jelek, sehingga layak untuknya neraka. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya.‘ Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik. (Ma’mu’ al-Fatawa, 21:541).

 

Dalam riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

لَايَدْخُلُالْجَنَّةَلَحْمٌنَبَتَمِنْسُحْتٍ،النَّارُأَوْلَىبِهِ

Tidak akan masuk surga, daging yang tumbuh dari as-suht, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Ahmad 14032 dengan sanad jayid sebagaimana keterangan al-Albani).

 

Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَايَرْبُولَحْمٌنَبَتَمِنْسُحْتٍإِلَّاكَانَتْالنَّارُأَوْلَىبِهِ

Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht, kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani).

 

Sebagai kepala keluarga sudah menjadi tanggung jawab kita untuk senantiasa menjaga kehalalan nafkah yang kita peroleh. Nafkah yang kita peroleh dari gaji yang cara mendapatkan pekerjaannya dengan bathil, akan dibelikan makanan dan tumbuh menjadi daging. Daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka berpenggaruh pada jiwa dan raga yang memakannya, misalnya anaknya nakal, narkoba, pemarah, suka judi dan lain-lain.

 

Dalam sebuah kisah Aisyah menceritakan, Abu Bakar memiliki seorang budak. Pada suatu hari sang budak datang dengan membawa makanan dan diberikan kepada Abu Bakar. Setelah selesai makan sang majikan yang wara’ bertanya, ‘Itu makanan dari mana?’ Si budak menjawab: “Dulu saya pernah berpura-pura jadi dukun semasa jahiliyah. Kemudian aku meramal seseorang. Sebenarnya saya tidak bisa meramal, namun dia hanya saya tipu. Baru saja saya bertemu dengannya dan dia memberi makanan itu yang baru saja tuan santap.” Seketika itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Abu Bakar mengatakan,

لولمتخرجإلامعنفسيلأخرجتهااللهمإنيأبرأإليكمماحملتالعروقوخالطالأمعاء

Andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali ruhku harus keluar (mati), aku akan tetap mengeluarkannya. Ya Allah, aku berlepas diri dari setiap yang masuk ke urat dan yang berada di lambung. (HR. Bukhari, 3554).

 

Kisah yang lain, Abu Said al-Khadimy (ulama mazhab Hanafi, wafat: 1156H) meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah menitipkan 70 helai kain kepada Bisyr untuk dijual di Mesir. Tidak lupa Abu Hanifah menulis surat kepadanya bahwa kain yang telah diberi tanda, ada cacatnya. Beliau juga memintanya untuk menjelaskan cacat tersebut kepada calon pembeli. Setelah kembali ke Irak, Bisyr menyerahkan uang hasil penjualan kepada Abu Hanifah sebanyak 3000 keping dinar (± 12,75 kg emas, dengan asumsi 1 dinar=4,25 gr). Lalu Abu Hanifah menanyakan kepada Al Bisyr, ‘Apakah satu kain yang cacat telah kamu jelaskan kepada pembeli saat menjual?

Bisyr menjawab, “Aku lupa”. Syahdan sang imam (Abu Hanifah) berdiri, lalu mensedekahkan seluruh hasil penjualan 70 helai kain tersebut. Sebuah nilai yang sangat besar, 12,75 kg emas (www.konsultasi syariah.com).

 

Apapun alasannya uang sogokan/suap tetap saja uang sogokan/suap. Yang disogok dan yang menyogok dua-duanya masuk neraka. Orang yang mengeluarkan uang demi sebuah pekerjaan pasti akan berupaya untuk mengembalikan uang yang telah dipakai untuk menyogok tersebut apabila dia sudah bekerja nanti. Mana mungkin dia mau mengeluarkan uang begitu saja tanpa upaya untuk mengembalikannya.

 

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Tetap berusaha untuk memperoleh pekerjaan yang halal: “Man jadda wa jada”.

 

Image

Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: